Kajian Pustaka: Disfagia Krikofaringealis pada Anjing

  • Kadek Intan Dwityanti Devi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
  • Putu Oky Astawibawa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
  • Josephine Aurora Budi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
  • Dewi Febriani Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
  • Ni Putu Dyah Giana Paramitha Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
  • Ade Hary Wiweka Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana

Abstract

Disfagia krikofaring adalah gangguan menelan yang jarang terjadi.  Gejala yang tampak adalah usaha menelan berulang, tersedak, muntah, regurgitasi, dan aspirasi.  Penyebab dari gangguan ini masih belum diketahui, dan dianggap sebagai kelainan neuromuskuler bawaan yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengangkut bolus faring yang didorong secara normal melalui sfingter esofagus bagian atas.  Anjing yang terkena memiliki prehension makanan normal dan bagian bolus ke faring, tetapi tidak dapat mengendurkan otot esofagus bagian atas, terutama otot krikofaring.  Akibatnya, makanan tetap berada di bagian ekor faring daripada masuk ke kerongkongan dan mengakibatkan aspirasi atau regurgitasi trakea.  Gangguan ini dibedakan menjadi cricopharyngeal achalasia atau cricopharyngeal asynchrony.  Diagnosis ditegakan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan radiografi dan pemeriksaan fluoroskopi.  Tanda klinis utama yang di amati pada pemeriksaan klinis, yaitu anjing susah menelan.  Penanganan dapat dilakukan dengan tindakan bedah miotomi krikofaring atau miektomi tunggal maupun dikombinasikan dengan miotomi tirofaring atau miektomi unilateral dan bilateral.