Gambaran Histopatologi Hati Tikus Putih yang Diberikan Ragi Tape

  • Ainul - Hidayah Universitas Udayana
  • Putu Suastika Laboratorium Histologi, Balai Besar Penelitian Veteriner Denpasar, Jl. Raya Sesetan, Denpasar, Bali, Indonesia 80234;
  • Ketut Budiasa Laboratorium Fisiologi, Farmakologi dan Farmasi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia 80234
  • Samsuri Samsuri Laboratorium Fisiologi, Farmakologi dan Farmasi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia 80234
  • I Ketut Berata Laboratorium Patologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia 80234
  • Luh Made Sudimartini Laboratorium Fisiologi, Farmakologi dan Farmasi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia 80234
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/bulvet.2022.v14.i03.p08

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi hati tikus putih akibat pemberian ragi tape pada beberapa dosis yang berbeda. Sebanyak 24 ekor tikus putih dibagi secara acak menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu P0: kontrol; P1: pemberian ragi tape 100 mg/kg BB; P2: pemberian ragi tape 200 mg/kg BB; dan P3: pemberian ragi tape 300 mg/kg BB. Perlakuan dosis dilakukan selama 21 hari. Pada hari ke-22 seluruh hewan coba dikurbankan dan dilakukan prosedur nekropsi. Organ hati diambil untuk pembuatan preparat histologi dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Variabel yang diamati meliputi degenerasi melemak dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ragi tape pada dosis 100 mg/kg BB (P1), dosis 200 (P2), dan 300 mg/kg BB (P3) tidak berbeda nyata (P>0,05) dibandingkan dengan kontrol (P0). Hal ini dapat disimpulkan bahwa pemberian ragi tape sampai dosis 300 mg/kg BB tidak menimbulkan perubahan histopatologi pada hati tikus putih.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Abdullah. 2010. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta. Bumi Aksara.
Baroroh HN, Warsinah. 2009. Antiinflamatory activity of ethanolic extract of leaves of jarak pagar (Jatropa curcas L.) and neutrophils profile in rats foot induced carrageenan. Proc. International Conference On Medicinal Plants, 22-23.
Dannuri H. 2009. Analisis Enzim Alanin Amino Transferase (ALAT), Aspartat Amino Transferase (ASAT), Urea Darah, dan Histopatologis Hati dan Ginjal Tikus Putih Galur Sprague-Dawley Setelah Pemberian Angklak. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. 20(1): 1-9.
Das SK, Dhanya L, Vasudevan DM. 2008. Biomarkers of alcoholism: an updated review. Scandinav. J. Clin. Lab. Invest. 68: 81-92.
Duhan JAK, Tanwar S. 2013. Bioethanol production from starchy part of tuberous plant (potato) using saccharomyces cerevisiae mtcc-170 Afri. J. Microbiol. 7(46): 5253-5260.
Koivisto H. 2007. Biomarkers for assessing ethanol consumption and the development of alcoholic liver disease: immune responses against ethanol metabolites, cytokine profiles and markers of fibrogenesis. Dissertation. Faculty of Medicine University of Tampere.
Mujdalifah S. 2016. Pengaruh ragi tradisional Indonesia dalam proses fermentasi santan terhadap karakteristik rendemen, kadar air, dan kadar asam lemak bebas virgin coconut oil (VCO). Vortech. 1(1): 10-15.
Oktaviana YA, Dadang S, Endang S. 2015. Pengaruh Ragi Tape terhadap pH, Bakteri Asam Laktat dan Laktosa Yogurt. Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.
O’Leary VS, Green R, Sullivan BC, Holsinger VH. 2004. Alcohol production by selected yeast strains in lactase hydrolyzed acid whey. J. Biotecnol. Bioengineer. 19(7): 1019-1035.
Onyeka AV, Nwaehujor CO, Ukagwu AL, Nwogwu IC. 2015. Effects of chronic alcohol ingestion on visceral organs in albino mice experimentally challenged with Escherichia coli Strain 0157:H7. Nigeria. Am. J. Pharmacol. Sci. 3(1): 25-32.
Pospos NS. 2002. Bukti gambar, etanol merusak sel hati dan pengaruhnya terhadap konsentrasi ATP intraseluler. Medika. 1(27): 17-20.
Rahmanna AT. 2003. Aflatoksin: senyawa racun pada biji kacang tanah. Bulletin Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Saad N. 2001. Aflatoxin Occurence and Health Risk. An undergraduate student Cornell University for The AS625 Class. Animal Science at Cornell University. USA.
Steel RGD, Torrie JH. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik (Terjemahan: Bambang Sumantri). Jakarta. PT. Gramedia.
Steinkraus KH. 1996. Handbook of Indigenous Fermented Foods. Second Edition, Revised And Expanded. New York. Marcel Dekker.
Suaniti NM, Djelantik AAGS, Suastika K, Astawa NM. 2012. Kerusakan hati akibat keracunan alkohol berulang pada tikus wistar. J. Vet. 13(2): 199-204.
Sudira IW, Merdana IM, Winaya IBO, Parnayasa IK. 2019. Perubahan histopatologi ginjal tikus putih diberikan ekstrak sarang semut diinduksi parasetamol dosis toksik. Bul.Vet. Udayana. 11(2): 136-142.
Usmana AS, Rianda S, Novia. 2012. Pengaruh volume enzim dan waktu fermentasi terhadap kadar etanol (Bahan baku tandan kosong kelapa sawit dengan pretreatment alkali). J. Ilm. Teknik Mesin. 18(2): 17-25.
Valeri DC, Samsuri, Berata IK. 2019. Perubahan histopatologi uterus pada tikus putih (rattus norvegicus) akibat pemberian ragi tape. Indon. Med. Vet. 8(3): 338-346.
Diterbitkan
2022-01-29
##submission.howToCite##
HIDAYAH, Ainul - et al. Gambaran Histopatologi Hati Tikus Putih yang Diberikan Ragi Tape. Buletin Veteriner Udayana, [S.l.], p. 246-254, jan. 2022. ISSN 2477-2712. Tersedia pada: <https://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet/article/view/63430>. Tanggal Akses: 27 sep. 2026 doi: https://doi.org/10.24843/bulvet.2022.v14.i03.p08.
Bagian
Articles

##plugins.generic.recommendByAuthor.heading##