Kecepatan Kesembuhan Luka Insisi Yang Diberi Amoksisilin Dan Asam Mefenamat Pada Tikus Putih
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan kesembuhan luka insisi pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang diberikan obat amoksisilin dan asam mefenamat ditinjau dari gambaran makroskopik dan mikroskopik. Tiga puluh dua ekor tikus putih jantan dengan berat 150-200 gram dibagi menjadi 2 kelompok secara acak dibuat luka insisi pada linea alba dengan panjang insisi 2 cm dengan kedalaman hingga menembus peritoneum. Tikus Kelompok perlakuan I adalah tikus yang diberikan amoksisilin dengan dosis 150 mg/kg BB/ hari pasca operasi, sedangkan kelompok perlakuan II adalah tikus yang diberikan amoksisilin dosis 150 mg/kg BB/ hari yang dikombinasikan dengan asam mefenamat dengan dosis 45 mg/kg BB/hari pasca operasi selama 3 hari. Pengamatan kesembuhan luka secara makroskopik dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pada hari ketujuh dan keempat belas, 8 ekor tikus dari masing-masing kelompok dieutanasi, kemudian kulit lokasi luka insisi dikoleksi untuk pemeriksaan histopatologis. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa pemberian amoksisilin dan asam mefenamat mempercepat kesembuhan luka dibandingkan kelompok tikus yang hanya diberi amoksisilin dengan hilangnya tanda kemerahan dan kebengkakan pada hari ke-6. Secara histopatologis tidak terjadi perbedaan yang signifikan terhadap sel epitel, sel radang dan jaringan kolagen luka insisi tikus putih.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Beltrani VS. 2006. Contact Dermatitis. http://www.contactdermatitis, irritantemedicinedermatology.mht. (20 Januari 2015).
Cockbill S. 2002. Wounds The Healing Process. The Welsh School Of Pharmacy. University College. Cardiff.
Fishman TD. 2010. Phases Of Wound Healing. Website: http://www.medicaledu.com/ phases.htm. (02 November 2014)
Gabriel A, Mussman, J. 2009. Wound Healing, Growth Factor. Department of Plastic Surgery. Loma Linda University School of Medicine. Birmingham.
Gayatri D. 1999, Perkembangan manajemen perawatan luka: dulu dan kini. J Keperawatan Indo, 2(8): 304-308.
Goodman. 2007. The pharmacological basis of therapeutics, 8th ed. Millan Publishing Company,1990: 207-300.
Ingold W. 1993. Wound Therapy: Growth Agents As Factor to Promotes Wound Healing. Trends Biotechnol 11, Hal 387-392.
Lorenz HP, Longaker MT. 2005. Wounds: biology, pathology and management. Ann Surg, 217(4): 391-396.
Mustika DG. Kardena IM, Pemayun P. 2015. Efektivitas plester luka pada aplikasi penutup luka insisi pasca operasi. Buletin Veteriner Udayana, 7(2): 137-145.
Price A, Wilson L. 1995. Patofisiologi. Buku 2. Edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Robert F. 2004. Wound Healing: an overview of acute, fibrotic and delayed healing. Frontiers in Bioscience, 9: 283-289.
Rozman P, Bolta Z. 2007. Use of platelet growth factor in treating wounds and soft tissue injuries. Acta Dermatoven APA, 16(4).
Singer AJ, Clark RA. 1999. Cutaneous wound healing. NEJM, 341(1).
Suwiti NK. 2010. Deteksi histologik kesembuhan luka pada kulit pasca pemberian daun mengkudu (Morinda citrofilia Linn). Buletin Veteriner Udayana. 2(1): 1-7.
Zulfa, Murachman E, Gayatri D. 2008. Perbandingan Penyembuhan luka terbuka menggunakan balutan Madu atau balutan normal salin-povidone iodine. J Keperawatan Indo, 12(1): 34-39.


