Proses Morfofonemis dalam Dialek Nusa Penida

  • I Ketut Darma Laksana Universitas Udayana

Abstract

Nusa Penida merupakan sebuah pulau sekaligus sebagai daerah kecamatan yang meliputi Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Namun, kedua pulau ini berbeda bahasanya dari bahasa yang digunakan oleh mayoritas penduduk Pulau Nusa Penida karena jejak sejarah keduanya pada masa lalu. Terdapat sebuah desa dari tiga belas desa yang ada berbeda pula bahasanya, yakni Desa Batununggul, yang mengenal alus-kasar bahasa, yang juga memiliki jejak sejarah yang berbeda, yang diduga pengaruh dari kerajaan Bali. Bahasa lokal yang dituturkan di Pualau Nusa Penida digolongkan sebagai sebuah dialek yang dinamakan Dialek Nusa Penida. Dialek bahasa ini memiliki keunikan jika dilihat dari segi tata hubungan antara morfologi dan   fonologi serta sintaksisnya. Karena akan menghasilkan pola-pola fonologis dari morfem (-morfem), tata hubungan tersebut berada dalam wilayah linguistik yang disebut morfofonemik atau morfofonologi. Kajian proses morfofonemis yang dilakukan dalam makalah ini menggunakan teori tata bahasa generatif yang mengedepankan penyusunan seperangkat kaidah formal tentang aturan bahasa ke dalam deskripsi strukturalnya. Sebagai contoh, kata yang berakhir dengan vokal jika mendapat enklitik, yang berfungsi sebagai posesif, akan mengalami perubahan bentuk. Misalnya, kata /sampi/ ‘sapi’ mendapat enklitik /-l?/ ‘-ku’ yang berasal dari klitik /kol?/ ‘aku/saya’ akan mengalami perubahan berupa penambahan Ligatur [l] sehingga menjadi [sampi-l-l?/ ‘sapiku’. Selain itu, akan terjadi pula penurunan vokal /i/ pada posisi akhir kata /sapi/ menjadi [?] dan vokal /?/ pada /-l?/ menjadi [ê]. Secara keseluruhan, yang terjadi dalam proses morfofonemis ialah hasil bentukan yang berterima, yaitu [samp?-l-lê] bukan *[sampil?] yang tidak berterima. Dengan demikian, Ligatur [l] tersebut berfungsi untuk memperlancar pelafalan

References

Aronoff, M. dan Fudeman, K. 2005. What is Morphology? Malden, USA; Oxford, UK; Victoria,
Australia: Blackwell Publishing.

Busenitz, Robert L. dan Marilyn J. Busenitz. 1991. Blantak Phonology and Morphophonemics. Dalam: J.N.
Sneddon, ed., Studies in Sulawesi Linguistics, Part II., Seri NUSA vol. 33.,hlm. 29—47. Jakarta:
Badan Penyelenggara Seri NUSA Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

Katamba, F. 1993. Morphology. Houndmills, Basingstroke, Hampirshire dan London: MacMillan
Press Ltd.

Keraf, G. 1973. Tata Bahasa Indonesia, Cetakan II. Ende-Flores: Nusa Indah.

Laksana, I K. Darma. 2019. “Penguatan Pengawasan Pengutamaan Bahasa Negara di Ruang Publik”.
Makalah disampaikan dalam SEMINAR DAN LOKAKARYA Pengutamaan Bahasa Negara di
Ruang Publik: Perkuat Pengawasan, 5—8 Agustus 2019, TMII, Jakarta.

Matthews, P.H. 1974. Morphology: An Introduction to The Theory of Word-Structure. Cambridge:
Cambridge University Press.

Samsuri. 1978. Analisa Bahasa: Memahami Bahasa Secara Ilmiah. Jakarta: Erlangga.

Verhaar, J.W.M. 1988. ”Phrase Syntax in Contemprory Indonesian: Noun Phrases”. Dalam: Bambang
Kaswanti Purwo, ed., Towards a Description of Contemprory Indonesian: Preliminary Studies,
Part III. NUSA Linguistic Studies of Indonesian and Other Languages in Indonesia, Volume 30,
hlm. 1—45. Jakarta: Badan Penyelenggara Seri Nusa, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.
Published
2021-11-19
How to Cite
DARMA LAKSANA, I Ketut. Proses Morfofonemis dalam Dialek Nusa Penida. International Seminar on Austronesian Languages and Literature, [S.l.], v. 9, n. 1, p. 74-80, nov. 2021. Available at: <https://ojs.unud.ac.id/index.php/isall/article/view/79870>. Date accessed: 22 may 2022.