Pengaruh Pemberian Gel Chitosan terhadap Jumlah Leukosit Tikus Putih pada Penyembuhan Luka Insisi

  • Syafruddin Syafruddin FKH USK
  • Dessy Ayu Mega Putri Program Studi Pendidikan Dokter Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 0651-7551536
  • Budianto Panjaitan Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 0651-7551536
  • Arman Sayuti Laboratorium Klinik Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 0651-7551536
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/bulvet.2022.v14.i02.p09

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian gel chitosan terhadap jumlah leukosit tikus putih (Rattus norvegicus) pada penyembuhan luka insisi. Dalam penelitian ini digunakan 10 ekor tikus putih betina yang berumur dua bulan dan memiliki berat badan ±165 g yang dibagi menjadi dua kelompok perlakuan (n=5). Perlakuan I (kontrol) luka insisi dioleskan dengan salep gentamisin, perlakuan II luka insisi dioleskan dengan gel chitosan (konsentrasi 5%) dua kali sehari selama 14 hari berturut-turut. Darah diambil melalui vena lateralis ekor sebanyak 0,5 ml dan pengamatan jumlah leukosit dilakukan pada hari ke-0, 3, 7, dan 14 setelah perlakuan. Pemeriksaan jumlah leukosit dilakukan dengan hemositometer dan menggunakan metode Neubauer. Parameter penelitian ini adalah jumlah leukosit pada proses penyembuhan luka insisi pada tikus putih. Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisa varian berdasarkan Rancangan Petak Terbagi (Split-plot Design). Jumlah leukosit pada kelompok I (gentamisin) vs kelompok II (chitosan) pada hari ke-0; 3; 7; dan 14 masing-masing adalah  7,89×104/mm3 vs 7,30×104/mm3;  6,28×104/mm3 vs 10,23×104/mm3; 7,27×104/mm3 vs  10,28×104/mm3; dan 7,02×104/mm3 vs 7,52×104/mm3.  Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan gel chitosan lebih baik daripada salep gentamisin dalam proses penyembuhan luka insisi pada tikus putih. Hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti dengan melakukan penelitian pada hewan lain untuk aplikasi pengobatan luka.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Amanda F. 2018. Profil dan diferensiasi leukosit tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague Dawley model hiperglikemia melalui pemberian deksametason. Thesis. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Aulia A, Candra A. 2015. Pengaruh pemberian seduhan daun kelor (Moringa oleifera lam) terhadap jumlah leukosit tikus putih (Rattus norvegicus). J. Nut. Coll. 4(2): 308-313.
Burgaleta C, Martinez-Beltran J, Bouza E. 1982. Comparative effects of moxalactam and gentamicin on human polymorphonuclear leukocyte functions. Antimicrob. Agens Chemotherapy. 21(5): 718-72.
Cockbill S. 2002. Wounds The Healing Process. The Welsh School of Pharmacy, University College, Cardiff.
Darwin CO. 2016. Gambaran sel darah putih pada respon inflamasi pasca pemasangan implan yang dilapisi platelet rich plasma dan tanpa dilapisi platelet rich plasma. Thesis. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Makasar, Makassar.
Huttenlocher A, Horwitz AR. 2007. Wound healing with electric potential. N. Engl. J. Med. 356(3): 303-304.
Mackay D, Alan LM. 2003. Nutritional support for wound healing. Alt. Med. Rev. 8(4): 359-377.
Masir O, Manjas M, Putra AE, Agus S. 2012. Pengaruh cairan Cultur Filtrate Fibroblast (CFF) terhadap penyembuhan luka penelitian eksperimental pada Rattus norvegicus galur wistar. J. Kes. Andalas, 1(3): 112-117.
Nur M. 2014. Pengaruh kitosan terhadap jumlah osteoklas dan osteoblas pada tikus galur wistar model menopause. J. Pus. Kes. 4(3): 76-87.
Perdanakusuma DS. 2007. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Airlangga University School of Medicine, Surabaya.
Putri RF, Tasminatun S. 2012. Efektivitas salep kitosan terhadap penyembuhan luka bakar kimia pada Rattus norvegicus. Mut. Med. 12(1): 24-30.
Rafdinal I, Amiruddin, Asmilia N, Zuraidawati, Sayuri A, Zuhrawati, Daud R. 2016. Perbedaan jumlah leukosit setelah transplantasi kulit secara autograft dan isograft pada anjing lokal (Canis lupus familiaris). J. Med. Vet. 4(2): 144-146.
Sukorini U, Dwi KN, Rizki M, Bambang HPJ. 2010. Pemantapan Mutu Internal Laboratorium Klinik. Yogyakarta, Alfamedia.
Ueno H, Mori T, Fujinaga T. 2001. Topical formulations and wound healing applications of chitosan. Adv. Drug Delivery Rev. 52(2): 105-115.
Ueyama Y, Misaki M, Ishihara Y, Matsumura T. 1994. Effects of antibiotics on human polymorphonuclear leukocyte chemotaxisin vitro. British J. Oral Maxillofacial Surg. 32(2): 96-99.
Wardono AP, Pramono BH, Husein RAJ, Tasminatun S. 2012. Pengaruh kitosan secara topikal terhadap penyembuhan luka bakar kimiawi pada kulit Rattus norvegicus. Mut. Med. 12(3): 178-187.
Diterbitkan
2022-03-22
##submission.howToCite##
SYAFRUDDIN, Syafruddin et al. Pengaruh Pemberian Gel Chitosan terhadap Jumlah Leukosit Tikus Putih pada Penyembuhan Luka Insisi. Buletin Veteriner Udayana, [S.l.], p. 124-128, mar. 2022. ISSN 2477-2712. Tersedia pada: <https://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet/article/view/84488>. Tanggal Akses: 20 feb. 2026 doi: https://doi.org/10.24843/bulvet.2022.v14.i02.p09.
Bagian
Articles