Aktivitas Angiogenesis Gel Extract Biji Cacao pada Penyembuhan Luka Insisi Gusi Marmut
Abstrak
Salah satu bahan terapi alternatif herbal, yaitu biji kakao karena mengandung flavonoid, polifenol, dan alkaloid yang mampu menurunkan jumlah makrofag dan antioksidan, untuk mempercepat proses inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh gel ekstrak biji kakao terhadap penyembuhan luka insisi gusi marmut yang dilihat dari tingkat angiogenesisnya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap, dengan empat perlakuan 6 ulangan, sehingga total hewan coba yang digunakan sebanyak 24 ekor. Marmut diinjeksi ketamin dengan dosis 50 mg/kg BB sebagai anestesi, kemudian diinsisi pada bagian gusi sepanjang 10 mm dan kedalaman 2 mm. Kemudian diberi perlakuan berupa pemberian gel ekstrak biji kakao secara topikal yaitu kelompok (T0) dengan konsentrasi 0%, (T1) 16%, (T2) 24%, (T3) 32%, masing-masing selama 5 hari. Pada hari ke 6 dilakukan euthanasia selanjutnya jaringan gusi diambil. Jaringan gusi diproses untuk pembuatan preparat histologi dengan metode pewarnaan Hematoksilin-Eosin (HE). Pemeriksaan preparat histopatologi dilakukan dengan mikroskop berdasarkan tingkat angiogenesis. Hasil pemeriksaan histopatologi diperoleh tingkat angiogenesis rata-rata pada To=19,00, T1=38,00, T2=43,50, T3=47,83. Analisis statistik menunjukkan ada peningkatan angiogenesis yang signifikan antara kontrol (T0) dibandingkan dengan kelompok yang diberikan gel ekstrak biji kakao (T1, T2 dan T3). Tetapi antara kelompok perlakuan T1, T2 dan T3 tidak ada perbedaan yang signifikan. Dapat disimpulkan bahwa pemberian gel ekstrak biji kakao secara topikal terbukti dapat meningkatkan angiogenesis pada kesembuhan luka insisi gusi marmut (Cavia procellus). Pemberian ekstrak biji kakao konsentrasi 32% menghasilkan tingkat angiogenesis tertinggi.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Fatimatuzzahroh F, Firani NK, Kristianto H. 2015. Efektifitas ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap jumlah pembuluh darah kapiler pada proses penyembuhan luka insisi fase proliferasi. Maj. Kes. FKUB. 2(2): 92-98.
Firdaus A. 2018. Efek ekstrak biji kakao (Theobroma Cacao L.) terhadap re-epitelialisasi soket pasca pencabutan gigi tikus wistar. Skipsi. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.
ICCO. 2012. International Cocoa Organization Quarterly Bulletin of Cocoa Statistics, XXXVIII(4), Cocoa year 2011/2012.
Kurniawati A, Cholid Z, Pertiwi MH. 2019. Efektivitas ekstrak biji kakao (Theobroma cacao L.) terhadap penyembuhan luka pencabutan gigi pada sel makrofag. Danta. 13(2): 49-57.
Misnawi S, Jinap B, Jamillah, Nazamid S. 2002. Effect of incubation and polyphenol oxidase enrichment of unfermented and partly fermented dried cocoa beans on color, fermentation index and epicatechin content. Int. J. Food Sci. Technol. 3(8): 4-2.
Nirmal NP, Rajput MS, Prasad RGSV, Ahmad M. 2015. Brazilin from Caesalpinia sappan heartwood and its pharmacological activities: A review. As. Pacific J. Trop. Med. (6): 421–430.
Prasetyo FB, Ietje W, Priosoeryanto BP. 2010. Aktivitas sediaan gel ekstrak batang pohon pisang ambon dalam proses penyembuhan luka pada mencit. J. Vet. 11(2): 70-73.
Puspita BS, Sularsih S, Damaiyanti DW. 2015. Perbedaan pengaruh pemberian kitosan berat molekul tinggi dan rendah terhadap jumlah pembuluh darah pada proses penyembuhan luka pencabutan gigi. Denta. 9(2): 209.
Thakur R, Jain N, Pathak R, Sandhu SS. 2011. Practices in wound healing studies of plants. Evidence-based complementary and alternative medicine. 2011.


