Penampilan Reproduksi Babi Bali yang dipelihara Semi Intensif
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan reproduksi babi bali yang dipelihara secara semi intensif. Penelitian dilakukan di Desa Grokgak, Buleleng, secara purposive random sampling dan pendekatan eksploratif. Pengumpulan data dilakukan pada beberapa peternak dengan teknik wawancara dengan orang/kelompok peternak, tenaga inseminator (data sekunder) dan pengamatan langsung di lapangan (data primer). Tabulasi dilakukan terhadap data primer maupun sekunder dan dianalisis secara deskriptif untuk melihat rataan dan standar deviasi. Hasil penelian penampilan reproduksi menunjukkan : babi bali mulai mengalami awal estrus pada umur 6,7 ± 0,78 bulan; awal dikawinkan 7,8 ± 0,6 bulan; lama estrus 2,8 ± 0,4 hari; lama siklus estrus 17,8 ± 1,40 hari; tanda-tanda estrus : gelisah, tidak mau makan, vulvanya membengkak, diam bila punggungnya ditekan dan babi merespon dengan posisi siap kawin, babi kadang mengeluarkan air liur, dan suara lenguhan; lama kebuntingan 111,6 ± 1,50 hari; litter size 10,8 ± 0,98 ekor, umur sapih 2,5 ± 0,5 bulan; berat sapih 6,35 ± 0,79 Kg; dan estrus post partus 79,8 ± 8,02 hari. Dapat disimpulkan pemeliharaan babi bali secara semi intensif menghasilkan penampilan reproduksi yang cukup baik dan sangat menjanjikan dipelihara pada daerah yang kering karena daya adaptasi terhadap lingkungan dan pakan yang cukup baik.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Agustina KK, Wirata IW, Dharmayudha AAGO, Kardena IM, Dharmawan NS. 2016. Increasing farmer income by improved pig management systems. Bul. Vet. Udayana. 8(2): 122–127.
Budaarsa KN, Tirta N, Budiasa KM, Astawa PA. 2013. Hijauan pakan babi dan cara penggunaannya pada peternakan babi tradisonal di Provinsi Bali. Disampaikan pada Seminar Nasional II Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HIPTI) di Denpasar 28-29 Juni 2013.
Budaarsa K. 2017. Babi bali plasma nutfah yang harus dikendalikan https://www.unud.ac.id/in/suarapakar2-Babi-Bali-Plasma-Nutfah-yang-harus-dilestarikan.html.Diakses 23 November 2019.
Feradis. Reproduksi Ternak. 2010. Alfabeta. Bandung.
Hartadi H, Reksohadiprodjo S, Tillman AD. 1990. Tabel komposisi pakan untuk Indonesia. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Nangoy M, Najoan M, Soputan. 2015. Pengaruh bobot lahir dengan penampilan anak babi sampai disapih. J. Zootek. 35(1): 138-150.
Putri TI, Mariani NNP, Puger AW. 2018. Pemetaan budidaya babi bali di Bali. Majalah Ilmiah Peternakan. 21(3); 120-122.
Sinaga S, Martini S. 2010. Pemberian berbagai dosis curcuminoid pada ransum babi periode starter dan efisiensi ransum. J. Ilmu Ternak. 10(2): 95-101.
Suarna IW, Suryana NN. 2015. Peluang dan tantangan pengembangan ternak babi bali di Kabupaten Gianyar Provinsi Bali. Majalah Ilmiah Peternakan. 18(2): 61-64.
Suarna IW, Suryani NN, Trisnadewi AAAS. 2015. Plasma nutfah babi bali yang terpendam. J. Bumi Lestari. 15(2): 103-108.
Sudiastra W, Budaarsa K. 2015. Studi ragam eksterior dan karakteristik reproduksi babi bali. Majalah Ilmiah Peternakan. 18(3): 100-105.
Sudiastra W, Budaarsa K, Puger AW. 2016. Karakteristik dan morfometrik babi bali. Proc. Seminar nasional. Peningkatan kualitas produksi ternak babi nasional. Menado 30 Nopember 2016.
Sumardani NLG, Ardika IN. 2016. Populasi dan performa reproduksi babi bali betina di Kabupaten Karangasem sebagai plasma nutfah asli Bali. Majalah Ilmiah Peternakan. 19(3): 105-109.
Sumardani NLG, Suberata IW, Rasna NMA, Ardika IN. 2017. Performa reproduksi babi bali jantan di Provinsi Bali sebagai plasma nutfah asli Bali. Majalah Ilmiah Peternakan. 20(2): 73-78.
Tribudi YA, Tohardi A. 2018. Estimate heritability of birth and weaning weights of duroc and yorkshire pig. J. Trop.l Anim. Prod. 19(1): 46-52


