Perubahan Mikroskopis Dermatitis Kompleks pada Anjing yang Diberikan Terapi Minyak Nimba
Abstrak
Dermatitis kompleks adalah peradangan pada kulit yang disebabkan oleh berbagai macam agen seperti jamur, ektoparasit, bakteri dan penyakit bawaan yang terjadi secara bersamaan sehingga tanda klinis yang ditunjukkan berupa gabungan klinis dari lesi primer dan lesi sekunder. Penelitian bertujuan untuk mengamati perubahan mirkoskopis kulit anjing penderita dermatitis kompleks pasca diberikan ekstrak minyak nimba secara topikal. Sampel terdiri dari tiga ekor anjing yang mengalami dermatitis kompleks sedang. Ketiga ekor anjing diolesi ekstrak herbal pada bagian eksternal kulit yang terdapat lesi. Ekstrak herbal diberikan secara topikal dua kali sehari, pagi dan sore. Pada hari ke-0, 7, dan 15 dilakukan biopsi pada ketiga sampel. Pengamatan histopatologi dilakukan menggunakan mikroskop binokuler pembesaran 100X dan 400X. Pemeriksaan histopatologi menunjukkanperubahan berupa hiperkeratosis, infiltrasi sel radang berupa basofil dan neutrofil,akanthosis, dan ulser. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian minyak ektrak nimbadapat mempercepat kesembuhan pada anjing yang menderita dermatitiskompleks.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Batra R, Boekhout T, Guého E, Cabañes FJ., Dawson TL, Gupta AK. 2012. 68http:// www.aseanbiodiversity.info/Abstract/ 51004752.pdf [20 Januari 2017).
Biswas, Kausik, Chattopadhyay I, Banerjee RK, Bandyopadhyay U. 2002. Biological activities and medicinal properties of Nimba (Azadirachta indica). Current Sci. 82(11): 1336-1345.
Budiana NS. 2007. Anjing. Cetakan kedua. Penebar Swadaya, Jakarta. Pp. 84- 94.
Cafarchia C, Gallo S, Romito D, Capelli G, Chermette R, Gullot J, Otranto D. 2005. Frequency, body distribution and population size of Malassezia species in healthy dogs and in dogs with localized cutaneous lesions. J. Vet. Diagn. Invest. 17: 316-322.
Indarjulianto S, Yanuartono, Purnamaningsih H, Wikansari P, Sakan GYI. 2014. Isolasi dan identifikasi Microsporum canis dari anjing penderita dermatofitosis di Yogyakarta. J. Vet. 15(2): 212-216.
Kardinan A. 2011. Penggunaan pestisida nabati sebagai kearifan lokal dalam
pengendalian hama tanaman menuju sistem pertanian organik.
Pengembangan Inovasi Pertanian. 4(4): 262-278.
Kasza BD. 2004. Malassezia infections. Mikol. Lek. 11(4): 323-327.
Kumar PS, Mishra D, Ghosh G, Panda CS. 2010. Biological action and medicinal properties of various constituent of Azadirachta indica (Meliaceae)” an Overview. Annals Biol. Res. 1(3):24-34.
Kumar PS, Navaratnam V. 2013. Nimba (Azadirachta indica): Prehistory to contemporary medicinal uses to humankind. Asian Pac. J. Trop. Biomed. 3(7): 505-514.
Pankaj S, Lokeshwar T, Mukesh B, Vishnu B. 2011. Review on neem (Azadirachta indica): Thousand problems one solution. Int. Res. J. Pharm. 2(12): 97-102.
Sampurna IP, Nindhia TS. 2015. Bahan Ajar Biostatistika. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana; Denpasar.
Suartha IN, Suarjana IGK, Sudimartini LM. 2015. Efektivitas Kombinasi Ekstrak Daun Nimba, Daun Pegagan, dan Daun Sirsak Untuk Penanggulangan Penyakit Radang Kulit Kompleks. Laporan Penelitian Unggulan Universitas Udayana, Denpasar.
Tjitrosoepomo G. 2000. Taksonomi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta. Pp. 477.
Widyastuti SK, Sutaridewi NM, Utama IH. 2012. Kelainan kulit anjing jalanan pada beberapa lokasi di Bali. Bul. Vet. Udayana. 4(2): 81-86.
Wiryana IKS, Damriyasa IM, Dharmawan NS, Arnawa KAA, Dianiyanti K, Harumna D. 2014. Kejadian dermatosis yang tinggi pada anjing jalanan di Bali. J. Vet. 15(2): 217-220.


