Analisis Kesehatan Daging dan Offals Babi yang Diproduksi Rumah Pemotongan Hewan Denpasar
Abstrak
Aspek keamanan pangan asal hewan perlu mendapat perhatian khusus karena penyakit yang menyerang manusia hampir 75% disebabkan oleh agen infeksi yang berasal dari hewan atau produk hewan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesehatan daging dan jeroan babi produksi RPH yang berpotensi menularkan penyakit zoonosis pada manusia. Penelitian ini menggunakan metode survei eksploratif kualitatif yaitu menganalisis kesehatan daging dan jeroan babi yang diperiksa secara inspeksi, palpasi, dan incici berdasarkan perbedaan jenis kelamin (jantan dan betina) dan umur hewan (muda dan dewasa) dengan total sampel yang diperiksa masing-masing sebanyak 100 sampel. Hasil penelitian menunjukkan, seluruh daging babi tidak ditemukan kelainan atau sehat. Paru babi ditemukan nekrosis 15%, pneumoni 30%, kombinasi hemoragi dan pneumoni 5%. Jantung babi ditemukan 13% hipertrofi/hiperplasi, dan pada hati babi ditemukan 1% mengandung larva sistiserkosis.Persentase kerusakan pada betina dewasa lebih tinggidibandingkan jantan dewasa. Dapat disimpulkan bahwa daging babi produksi RPH Pesanggaran masih layak dikonsumsi, namun sebagian kecil (5-30%) jeroannya menunjukkan perubahan/kelainan yang berpotensi menularkan penyakit zoonosis pada manusia.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Ardana, IBK, Harya Putra IGK. 2008. Ternak Babi. Manajemen Reproduksi, Produksi, dan Penyakit. Edisi 1, Udayana University Press. Denpasar.
Damriyasa IM, Bauer C, Nockler K, Tenter AM, Sahner H. 2000a. Survey on zoonotic parasite infection s in pigs in southern Bali, Indonesia. Proc.19 Congress. DTSCH Ges. Parasitol. Stutgart.
Damriyasa IM, Edelhofer R, Volmer R, Bauer C, Sahner H. 2000b. Curreent Seroprevalence of Toxoplasma gondii infection in sows in two Region of Germany. Proc. 18th Int. Conf. WAAVP, Stressa/Italy.
Dharmawan, NS, Swastika, K, Putra, IM, Wandra, T, Sutisna, P, Okamoto, M, and Ito, A. 2012. Present situationand problem of cysticercosis in animal in Bali and Papua. J. Vet. 13(2) : 154-162.
Direktorat Kesmavet. 2005. Pedoman Teknis Pemeriksaan Ante-mortem dan Post-mortem di Rumah Pemotongan Hewan. Ditjen Bina Produksi Peternakan, Deptan, Jakarta Pp. 1-16.
Ester, MA, Swacita, IBN, Suada, IK. 2018. Gambaran fisik pemeriksaan post-mortem organ jantung, paru-paru dan hati sapi bali yang berasal dari rumah pemotongan hewan Pesanggaran, Kota Denpasar. Indonesia Med. Vet. 7(2): 106-114.
Hadiwiyoto S. 1993. Teknologi hasil perikanan. 1stEd. Liberty. Yogyakarta.
Mas-Coma S, Bargues MD. Valero MA. 2005. Fasciolosis and other Plant-Borne Trematode Zoonosis. Int. J. Parasitol. 35 :1255-1265
Pilet B. Deckers F, Pouillon M, Parizel B. 2010. Fasciola hepatica infection in a 65-year-old women. Radiol. Case. 4(4): 13-19.
Sripa, B, Kaewkes, S. Intapan, P.M. Maleewong, W. Brindly, P.J. 2010. Food borne trematodoasis in Southeast Asia: epidemiology, pathology, clinical manifestation an control. Adv. Parasitol. 72: 305-350.
Suardana IW, Soejoedono RR. 2005. Zoonosis. Edisi 1, Cetakan 1. Penerbit Universitas Udayana Press. Denpasar.
Swacita IBN, Damriyasa IM, Dharmawan NS, Astawa NM, Apsari IAP, Oka IBM, Tenaya IWM. 2015. Produksi dan Karakterisasi Antibodi Monoklonal Anti-Cysticercus cellulosae. J. Vet. 16(3): 325-333.


