Analisis Kesehatan dan Kualitas Daging Babi Berdasarkan Mata Rantai Peredarannya
Abstrak
WHO menyatakan bahwa, sekitar 75% penyakit-penyakit baru yang menyerang manusia dalam dua dasa warsa terakhir disebabkan oleh patogen-patogen yang berasal dari hewan atau produk hewan, sehingga produk pangan asal hewan (daging) berpotensi berbahaya kepada konsumen. Oleh sebab itu aspek kesehatan dan keamanan pangan asal hewan (daging) perlu mendapat perhatian khusus. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kesehatan dan kualitas daging babi dari tempat produksi sampai mata rantai peredarannya yaitu kios daging atau pasar). Penelitian ini menggunakan metode eksploratif kualitatif yaitu menganalisis kesehatan daging babi secara inspeksi, palpasi dan insisi serta kualitas daging babi diperiksa secara subjektif meliputi uji warna, aroma, konsistensi, dan tekstur, serta uji objektif meliputi uji Daya Ikat Air, Kadar Air, pH, dan awal pembusukan. Sampel penelitian diambil dari tempat produksi (rumah pemotongan hewan Pesanggaran dan Dharmasaba) dan kios daging di Pasar Badung dan Pasar Kereneng), dengan total sampel penelitian sebanyak 100 sampel. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging babi dari tempat produksi sampai tempat peredarannya, kesehatannya baik (tidak ditemukan kelainan). Demikian pula, daging babi dari tempat produksi (RPH Pesanggaran maupun Dharmasaba) sampai di tempat peredarannya yaitu kios pasar Badung dan kios pasar Kereneng, kualitasnya sesuai dengan standar. Dapat disimpulkan bahwa kesehatan dan kualitas daging babi dari tempat produksi sampai mata rantai peredarannya masih baik, sehingga dapat direkomendasi sehat, aman dan layak untuk dikonsumsi.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Damriyasa IM, Bauer C Nockler K, Tenter AM, Sahner H. 2000. Survey on zoonotic parasite infection s in pigs in southern Bali, Indonesia. Proc.19 Kongr. DTSCH GesParasitol, Stutgart.
Damriyasa IM, Edelhofer R, Volmer R, Bauer C, Sahner H. 2001. Curreent seroprevalence of Toxoplasma gondii infection in sows in two region of Germany. Proc. 18th Intern Conf WAAVP, Stressa/Italy. Abstract A2p. Pp. 1-8.
Dharmawan NS, Swastika K, Putra IM, Wandra T, Sutisna P, Okamoto M, Ito A. 2012. Present situation and problem of cysticercosis in animal in Bali and Papua. J. Vet. 13(2): 154-162.
Direktorat Kesmavet. 2005. Pedoman Teknis Pemeriksaan Ante-mortem dan Post-mortem di Rumah Pemotongan Hewan.Ditjen Bina Produksi Peternakan, Deptan, Jakarta Pp: 1-16.
Farghaly AM, Nada SM, Eman WA, Mattar MA, Mohammed SM, Sharaf EM, Gamal RM. 2009. Role of fast-elisa and westernblotting in diagnosis of human fascilosis using crude adult worm and excretory-secretory fasciola antigen. Parasitol. United J. 2(1): 55-65.
Forrest JC, Aberle EB, Hedrick HB, Judge MD, Merkel RA. 1975. Principles of Meat Science. W.H. Freeman and Co. San Fransisco.
Gajewska A, Smaga-Kozlowska, Wiesniewski M. 2005. Phatological changes of liver in infection of fasciola hepatica. Wiad. Parasitol. 51(2): 115-23.
Mas-Coma S, Bargues MD, Valero MA. 2005. Fasciolosis and other plant-borne trematode zoonosis. Int. J. Parasitol. 35: 1255-1265
Mendes EA, Vasconcelos AC, Lima WS. 2005. Histophatology of fasciola hepatica infection in marinos unguiculatus. Rev. Patol. Trop. 4(1): 55-62.
Pilet BD, Pouillon FM, Parizel B.2010. Fasciola hepatica infection in 65-year-old women. Radiol. Case. 4(4): 13-19.
Soeparno. 2009. Ilmu dan teknologi daging. 4thEd. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sripa B, Kaewkes S, Intapan PM, Maleewong W, Brindly PJ. 2010. Food borne trematodoasis in southeast asia: epidemiology, pathology, clinical manifestation a control. Adv. Parasitol. 72: 305-350.
Suardana IW, Swacita IBN. 2009. Higiene makanan. Udayana Uneversity Press, Denpasar.
Swacita IBN, Damriyasa IM, Dharmawan NS, Astawa NM, Apsari IAP, Tenaya IWM. 2015a. Respons imun mecit yang diimunisasi dengan Cysticercus cellulosae. J. Vet. 16(2): 181-186.
Swacita IBN, Damriyasa IM, Dharmawan NS, Astawa NM, Apsari IAP, Oka IBM, Tenaya IWM. 2015b. Produksi dan karakterisasi antibodi monoklonal anti-Cysticercus cellulosae. J. Vet. 16(3): 325-333.
Tenter AM, Heckeroth AR, Weiss IM. 2000. Toxoplasma gondii: from Animal to Humans. Int. J. Parasitol. 30: 1217-58.
WHO. 2005. Zoonosis and Veterinay Public Health. http://www.who.int/zoonosis. Diakses tanggal 6 April 2006.


