Perubahan Histopatologi Ginjal Tikus Putih yang diberikan Ekstrak Sarang Semut diinduksi Parasetamol Dosis Toksik
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian parasetamol dosis toksik mempengaruhi histopatologi ginjal dan mengetahui efek sarang semut terhadap efek protektif terhadap ginjal tikus putih yang diberikan parasetamol dosis toksik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan yang terdiri dari empat perlakuan, yaitu kelompok kontrol P0 tanpa perlakuan, kelompok perlakuan P1 diberi parasetamol dosis 250 mg/kgBB, kelompok perlakuan P2 diberi parasetamol dosis 250 mg/kgBB ditambah sarang semut dosis 250 mg/kgBB, perlakuan P3 diberikan sarang semut 250 mg/kgBB selama tujuh hari setelah itu diberikan ekstrak sarang semut dan parasetamol dosis 250 mg/kgBB. Parasetamol dan ekstrak sarang semut diberikan secara oral selama sepuluh hari. Setelah itu dilakukan nekropsi dan organ ginjal diambil secara aseptik untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin. Variabel yang diperiksa adalah kongesti, pendarahan, nekrosis dan radang. Dari hasil pemeriksaan didapat hasil kerusakan ginjal berupa kengesti, pendarahan, nekrosis dan radang. Uji Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada rerata kongesti, pendarahan, nekrosis, dan radang dari kelompok yang diuji. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa parasetamol dosis 250 mg/kgBB dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Sarang semut dosis 250 mg/kgBB mampu memperbaiki kerusakan jaringan ginjal
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Alam S, Waluyo S. 2006. Sarang semut primadona baru dari papua. Majalah Nirmala. Jakarta: PT Gramedia. Pustaka Utama.
Angelina GH, Azmizah A, Soehartojo S. 2000. Pengaruh pemberian air sungai dan PDAM Jangir terhadap perubahan histologis ginjal tikus putih (Rattus novergicus). Media Ked. Hewan. 16(3):180-185.
Atika RH, Muhamad NS, Abdul H, Hamdani B, Zainuddin, Sugito. 2015. Pengaruh pemberian kacang panjang (Vigna unguiculata) terhadap strukturmikroskopis ginjal mencit (Mus musculus) yang diinduksi aloksan. J. Med. Vet. 9(1): 18-22.
Atmaja D. 2008. Pengaruh ekstrak kunyit (Curcuma domestica) terhadap gambaran mikroskopik mukosa lambung mencit balb/c yang diberi parasetamol. semarang. Karya tulis ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Baratawidjaya KG. 2002. Imunologi Dasar. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran UI.
Bustanussalam. 2010. Penentuan struktur molekul dari fraksi air tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendans Merr. dan Perry) yang mempunyai aktivitas sitotoksik dan sebagai antioksidan. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Cadenas E, Packer L. 2002. Expanded caffeic acid and related antioxidant compound: Biochemical and cellular effects. Hand book of Antioxidants. 2nd Ed. California, Marcel Dekker, Inc. Pp: 279-303.
Himawan S. 1996. Kumpulan kuliah patologi. UI Press. Jakarta. Hirsch AC, Philipp.
Kerr JF, Wyllie AH, Currie AR. 1972. Apoptosis: a basic biological phenomenon with wide-ranging implications in tissue kinetics. Br. J. Cancer. 26:239–57.
Kumar V, Abbas A, Aster J. 2013. Robbins basic pathology. 9th Ed. Student consult. Saunders. Pp: 928.
Lilik E, Khothibul UAA, Umi K, Firman J. 2008. Pengaruh pemberian ekstrak propolis terhadap sistem kekebalan seluler pada tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar. J. Tek. Pertanian. 9(1): 1-8.
Mot AC, Damian G, Sarbu C, Silaghi DR. 2009. Redox reactivity in propolis: direct detection of free radicals in basic medium and interaction with hemoglobin. J. Med. Food. 14(6): 26774.
Robbins dan Kumar. 1995. Buku ajar patologi 1. Edisi 4. Jakarta, EGC. Pp: 290-293.
Soeksmanto A, Simanjuntak P, dan Subroto MA. 2010. Uji toksisitas akut ekstrak air sarang semut (Myrmecodia pendans) terhadap histologi organ hati mencit. J. Nat. Indo. 12(2): 152-155.
Subroto MA, Saputro H. 2006. Gempur penyakit dengan sarang semut. Jakarta. Penebar Swadaya.
Sudiono J, Oka CT, Trisfilha P. 2015 The Scientific Base of Myrmecodia pendans as Herbal Remedies. British J. Med. Medic. Res. 8(3): 230-237.
Suparman IP, Sudira IW, Berata IK. 2013. Kajian ekstrak daun kedondong (Spondias dulcis G.Forst) diberikan secara oral pada tikus putih ditinjau dari histopatologi ginjal. Bul. Vet. Udayana. 5(1): 49-56.
Ueda N, Shah SV. 2000. Role of endonucleases in renal tubular epithelial cell injury. NCBI 8(01): 8-13.
Wilson LM. 2005. Gangguan sistem ginjal. Dalam: Anderson P. S, Wilson L. M (Ed). Patofisiologi konsep klinis.


