Ikonografi Hindu Abad VIII-XII M di Kabupaten Gianyar, Bangli, dan Buleleng: Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna

  • I Wayan Srijaya Universitas Udayana
  • Kadek Dedy Prawirajaya R Universitas Udayana
  • Coleta Palupi Titasari Universitas Udayana
  • A. A. Gde Bagus Universitas Udayana
  • I Nyoman Rema Universitas Udayana
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/JKB.2020.v10.i02.p06

Abstrak

Abstrak


Ikonografi adalah studi yang mempelajari seni arca. Arca adalah simbol dewa atau perwujudan tokoh masyarakat yang telah wafat. Di Indonesia pada umumnya dan Bali khususnya, tradisi memembuat arca mempunyai sejarah yang panjang, yaitu sejak zaman bercocok tanam hingga zaman berpengaruhnya peradaban Hindu-Budha. Pada zaman Hindu-Budha, berkembang pembuatan arca-arca yang bercorak Hindu dan Budha. Penelitian ini difokuskan pada arca-arca bercorak Hindu yang ditemukan di Kabupaten Gianyar, Bangli, dan Buleleng. Penelitian ikonografi Hindu bertujuan untuk memperoleh gambaran sejarah seni arca, bentuk, fungsi, dan maknanya dalam kehidupan masyarakat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ikonografi Hindu di Bali mempunyai bentuk yang beraneka wujud, dengan fungsinya yang berbeda-beda dari fungsinya semula. Demikian juga maknanya bergantung pada masyarakat yang memberikan pemaknaan dalam konteks kekinian.


 

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Ardika, I Wayan, dkk. (2012). Sejarah Bali: dari Prasejarah hingga Modern. Denpasar: Udayana University Press.

Ardika, I Wayan, I Ketut Setiawan, I Wayan Srijaya, dan Rochtri Agung Bawono. (2017). “Stratifikasi Sosual Pada Masa Prasejarah di Bali”, dalam Jurnal Kajian Bali Volume 07, Nomor 01, April 2017, hal. 35-56.

Bagus, A.A.Gede, (2015). Arca Ganesha Bertangan 18 di Pura Pingit Melamba, Desa Bunutin, Kintamani, Bangli. Dalam Forum Arkeologi Volume 28, Nomor 1 April 2015 (25-34). Denpasar: Baai Arkeologi Bali.

Banerjea, Jitendra Nath. (1985). The Development of Hindu Iconography. University of Calcutta.

Darma, I Kadek Sudana Wira. (2018). “Pengarcaan Dewa Wisnu pada Masa Hindu-Buddha di Bali”. (Skripsi). Denpasar: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.

Ferdinandus, P. E. J. (1985). “Wisnu di atas Garuda di Trawas sebagai Arca Pancuran”. Pertemuan Ilmiah Arkeologi II di Ciloto, pp. 23-28. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudyaan.

Gangadharan, N. (1980). Lingapurana A Study. Delhi: Ajanta Publications.

Goris, R. (1954). Prasasti Bali I, NV. Bandung: Masa Baru.

Kempers, A. J. Bernert. (1959). Ancient Indonesia art. Cambridge: Harvarad University Press.

Kempers, A. J. (1991). Monumental Bali. Berkeley: Periplus Editions.

Kramrisch, Stella. (1988). The Presence of Siva. Deli: Motelal Banaridas.

Liebert, Gosta (1976). “Iconography dictionary of the Indian Relegions. Hinduism-Buddhism-Jainism”, Studies in South Asian Culture, Vol.V. Leiden: E. J. Brill.


Maulana, Ratnaesih. (1979). Variasi Ciri-ciri Durga Mahisasuramardini. Jakarta: Lembaga Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Maulana, Ratnaesih. (1984). Ikonografi Hindu. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Maulana, Ratnaesih. (1993). Siva dalam Berbagai Wujud: Suatu Analisis Ikonografi di Jawa Masa Hindu-Budha. Depok: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Poerbatjaraka. R.M.Ng.(1990). Agastya di Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Rao, T.A.Gopinatha. (1971). Elementof Hindu Iconography. New Delhi: Motilal Banarsidass.

Redig, I Wayan. (1993). “Tinjauan Ikonografis Terhadap Arca-Arca Dewa Hindu Yang Diproduksi Oleh Para Perajin Desa Batubulan dan Singapadu”. Laporan Penelitian. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Redig, I Wayan. (1996). Ganesa Images from India and Indonesia. Delhi: Sundep Prakashan.

Sedyawati, Edi. (1985). “Pengarcaan Ganesa Masa Kadiri dan Singhasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian”. (Disertasi). Jakarta: Universitas Indonesia.

Setiawan, I Ketut. (2016). Hubungan Konseptual antara Candi-candi di Jawa Timur dengan Pura di Bali Dalam Jurnal Kajian Bali Volume 06, Nomor 01, April 2016 hal. 253-274. Penerbit: Pusat Kajian Bali Universitas Udayana.

Sivananda, Sri Swami. (1993) All About of Hinduism. Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia Inti Sari Ajaran Hindu oleh Yayasan Sanatana Dharmasrama, Surabaya.

Soediman. (1974). “Makna dan Fungsi Candi ditinjau dari Sudut Pandang Keagamaan”. Bahasa, Sastra, Budaya: Ratna Manikam Untaian Persembahan Kepada Prof. Dr. P. J. Zoemulder. Pp. 661-683. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Soejono, R.P. (editor). (2010). Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.

Soekmono, R. (1991). Sejarah Kebudayaan Indonesia 1.Yogyakarta: Kanisius.

Stutterheim, W. F. (1929). Oudheden Van Bali. Hei Oud Rijk Van Pejeng. Vol I-II. Singaraja: De Kirtya Lietring Van der Tuuk.

Titib, I Made. (2003). Teologi dan Simbol-Simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita.

Triguna, IBG.Yudha. (2000). Teori Tentang Simbol. Denpasar: Widya Dharma.

Widia, Wayan. (1979/1980). Arca Perunggu Koleksi Museum Bali. Denpasar: Proyek Pengembangan Permuseuman Bali.
Diterbitkan
2020-10-10
##submission.howToCite##
SRIJAYA, I Wayan et al. Ikonografi Hindu Abad VIII-XII M di Kabupaten Gianyar, Bangli, dan Buleleng: Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), [S.l.], v. 10, n. 2, p. 469–490, oct. 2020. ISSN 2580-0698. Tersedia pada: <http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali/article/view/60827>. Tanggal Akses: 21 may 2026 doi: https://doi.org/10.24843/JKB.2020.v10.i02.p06.