Eksistensi Budaya Bali di Tengah Kemajemukan Budaya di Kelurahan Tangkiling, Palangka Raya, Kalimantan Tengah
Abstrak
Tujuan penelitian untuk mengkaji dan mendeskripsikan bentuk interaksi sosial dan eksistensi budaya Bali pada masyarakat multikultural di Kelurahan Tangkiling, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Permasalahan dikaji menggunakan teori interaksi antarbudaya dengan metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian bentuk interaksi sosial yang dilakukan transmigran Bali di Kelurahan Tangkiling di bidang keagamaan adalah toleransi yang berlandaskan pada Tat Twam Asi, bidang sosial kemasyarakatan mengembangkan sikap tolong-menolong, di bidang ekonomi membentuk kelompok tani yang diberinama Kelompok Tani Sari Bumi, dan di bidang Keamanan dan Ketertiban Masyarakat dengan aktif tergabung dalam keanggotaan Sistem Keamanan Lingkungan. Di samping kerja sama juga terjadi persaingan dan konflik tetapi dapat dikelola dengan baik sehingga tidak menjadi konflik terbuka. Hal ini mempengaruhi eksistensi budaya Bali di Kelurahan Tangkiling di antaranya yaitu eksistensi sanggah (merajan), konsep ngayah, tradisi tahunan parade ogoh-ogoh, dan penggunaan penjor. Hal ini membuat budaya Bali tetap terpelihara di tengah-tengah multikultural dan pluralitas agama yang ada.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Ali, HM.dkk. (1989). Islam Untuk disiplin,Ilmu Hukum, Sosial, dan Politik. Jakarta: Bulan Bintang
Atmadja, I Md. N. dkk. (2008). Nilai Filosofis Penjor Galungan & Kuningan. Surabaya: Paramita.
Boty, Middya. (2017). “Masyarakat Multikultural: Studi Interaksi Sosial Masyarakat Islam Melayu Dengan Non melayu Pada Masyarakat SukaBangun Kel. Sukajadi. Kec. Sukarami Palembang”. Jurnal JSA Vol 1 No. 2 hal. 1-17.
Fahrudin, Salim. (2001). Pluralisme dan Toleransi Keberagamaan. (dalam Pluralisme Agama Kerukunan dalam Keragaman). Jakarta: Kompas.
Gerungan, W.A. (2004). Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Rineka Cipta
Liliweri, Alo. (2001). Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Liliweri, Alo. (2009). Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang.
Nala, N. (2011). “Penjor dan Sanggah Cucuk”. Dalam K.M. Suhardana ed. Manjangan Sekaluang Himpunan Berbagai Tulisan. Surabaya: Paramita.
Normuslim. (2015). “Kerukunan Antar Umat Beragama Keluarga Suku Dayak Ngaju Di PalangkaRaya” (disertasi). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Pendit S, Nyoman.(2002). Bhagavad-Gita. Jakarta: CV Pelita Nusantara Lestari
Prastowo, Andi. (2012). Metode Penelitian Kualitatif. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Punia, I Nengah dan Nugroho, Budi, Wahyu. (2020). Bali Diaspora di Daerah Transmigrasi: Representasi Kearifan Lokal Bali di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Jurnal Kajian Bali, Vol. 10. No. 01. Hal. 49-72
Rahmawati, Ni, Nyoman. (2019). Pergulatan Ideologi Keberagamaan Keluarga Dayak Katingan di Kabupaten Katingan,Di Desa Tewang Tampang Provinsi Kalimantan Tengah .(Disertasi). Denpasar: Universitas Udayana.
Rajab, Budi, 1996. “Pluralisme Masyarakat Indonesia Suatu Tinjauan Umum”,. Jakarta: PT. Pustaka LP3ES
Richard, West dan Lynn, H,Turner terj Maria Natalia dan Damayantu Maer. (2008). Pengantar Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Soekanto, Soerjono. (2000). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta.
Suhardana, K,M. (2011). Punarbawa: Reinkarnasi, Samsara atau Penitisan. Surabaya: Paramita
W.J.S, Poerwadarminta. (1986). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Wiana, Ketut. (2007). Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu. Surabaya: Paramita.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.