Jumlah Fungi pada Retikulum, Omasum dan Abomasum Sapi Bali Berdasarkan Letak Geografis

  • Ardhita Nurma Gupita Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Denpasar, Bali, Indonesia, 80234
  • I Gusti Ketut Suarjana Laboratorium Mikrobiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB Sudirman, Denpasar, Bali Indonesia
  • Ketut Tono Pasek Gelgel Laboratorium Mikrobiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Jl. PB Sudirman, Denpasar, Bali Indonesia
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/bulvet.2023.v15.i06.p12

Abstrak

Sapi bali merupakan salah satu plasma nutfah Indonesia jenis ternak besar sebagai sumber protein hewani, sapi bali sangat terkenal akan keunggulan dan keberadaannya harus dilestarikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah fungi pada retikulum, omasum dan abomasum berdasarkan letak geografisnya serta untuk mengetahui perbedaan jumlah fungi pada retikulum, omasum dan abomasum sapi bali pada dataran rendah dan tinggi. Materi penelitian yang digunakan sebanyak 32 sampel dari masing masing isi retikulum, omasum dan abomasum yang diambil dari rumah pemotongan hewan (RPH) Pesanggaran, Denpasar. Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah jumlah mikrobia fungi yang terdapat pada retikulum, omasum dan abomasum pada sapi bali. Data yang diperoleh ditampilkan secara deskriptif, dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif observasional dengan design penelitian crossectional study. Rerata jumlah fungi pada retikulum, omasum dan abomasum sapi bali di dataran tinggi dan rendah secara berturut turut 90,63x105±53,475CFU/g dan 51,88x105±13,276 CFU/g ; 70,63x105±32,755 CFU/g dan 40,63x105±8,539 CFU/g ; 36,88x105±4,787 CFU/g dan 21,88x105±4,031 CFU/g. Hasil analisis uji independent t test menunjukkan jumlah fungi pada retikulum, omasum dan abomasum sapi bali di dataran tinggi lebih banyak secara nyata (P<0,05) dibandingkan sapi bali yang dipelihara di dataran rendah. Penelitian ini memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai isolasi dan karakteristik fungi pada retikulum, omasum dan abomasum sapi bali di lokasi dataran yang berbeda untuk menguatkan hasil penelitian baik secara teoris maupun praktis

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Ariati. 2022. Performa Produksi Sapi Bali Jantan Pra Sapih Pada Ketinggian Yang Berbeda Di Kabupaten Lombok Timur. Skripsi. Mataram.
Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan I. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama
Heraini D, Purwanto BP, Suryahadi. 2016. Perbandingan Suhu Lingkungan dan Produktivitas Ternak Sapi Perah Melalui Pendekatan Stochastic Frontier (Study Kasus di Peternakan Rakyat KUTT Suka Makmur). Bogor. J. Sains Terapan Edisi VI Vol-6 (1) : 16 – 24
Kadarsih S. 2004. Performans Sapi Bali Berdasarkan Ketinggian Tempat di Daerah Transmigrasi Bengkulu: Performans Pertumbuhan. J. Ilmu-Ilmu Pertanian Indon. 6(1): 50- 56
Lamid M. 2016. Peran Bioteknologi Pakan Ternak Terhadap Pertambahan Berat Badan Sapi Sebagai Upaya Pemenuhan Konsumsi Daging Nasional: Surabaya.
Marlissa FCM, Suarjana IGK, Besung INK. 2020. Jumlah Fungi Pada Cairan Rumen Sapi Bali. Denpasar. Indonesia Mediscus Veterinus 9(3): 383-391
Masitoh S. 2021. Kebutuhan Daging Sapi Nasional. Jakarta. Kontan.Co.Id https://nasional.kontan.co.id/news/kebutuhan-daging-sapi-tahun-ini-700000-ton-produksi-dalam-negri-hanya-separuhnya. Artikel ini diakses pada tanggal 28 Desember 2022 pukul 12.10 WITA
Mould FL, Kliem KE, Morgan R, Mauricio RM. 2005. In Vitro Microbial Inoculum: A Review of Its Dunction and Properties. Anim. Feed Sci. Technol. 123-124: 31 50.
Nagpal R, Puniya AK, Sehgal JP, Singh K. 2010. Influence of Bacteria and Protozoa from The Rumen of Buffalo on In-Vitro Activities of Anaerobic Fungus Caecomyces Sp.Isolated from The Feces of Elephant. J. Yeast Fungal. Res. 1 (8): 152-156.
Noor RR. 1999. Peran gen kelenturan fenotip dalam mengontrol interaksi antara faktor genotipe dengan lingkungan. Pelatihan Aplikasi Pemuliaan Mendukung Pelepasan Varietas Ikan Unggul.Bogor.
Nuriyasa IM, Dewi GAMK, Budiari NLG. 2016. Indeks Kelembaban Suhu dan Respon Fisiologi Sapi Bali yang Dipelihara Secara Feedlot pada Ketinggian Berbeda. Maj. Ilmiah Pet.18(1): 5 – 10.
Pribadi LW. 2014. Respon Pertumbuhan Sapi Bali dan Silangannya dengan Sapi Simental terhadap Perbedaan Lingkungan Termal di Pulau Lombok. J. Bionomika. 11(3): 34-41.
Purbowati EE, Rianto WS, Dilaga CMS, Lestari R, Adiwinarti. 2014. Karakteristikcairan rumen, jenis, dan jumlahmikrobiadalam rumen sapiJawa dan Peranakan Ongole. Bul. Pet. 38 (1): 21 – 26.
Purwoko. 2015. Peran Kebijakan Fiskal Dalam Peningkatan Produktvitas Pembibitan Sapi Nasional. J. Kajian Ekonomi dan Keuangan. 19(2): 97-121.
Sari NF. 2017. Mengenal Keragaman Mikroba Rumen pada Perut Sapi Secara Molekuler. Bio Trends. 8(1): 5-9.
Susilawati. 2016. Fisiologi Nutrisi Abomasum Sapi Bali Jantan. Skripsi. Mataram
Sutedjo H. 2016. Dampak Fisiologis dari Cekaman Panas pada Ternak. J. Nukleus Pet. 3(1): 93-105.
Van Soest PJ. 1994. Nutritional Ecology of the Ruminant. Second Edition. Cornell University Press. London.
West JW. 2003. Effects of heat-stress on production in dairy cattle. J. Dairy Sci. 86: 2131–2144.
Xiao R, Horton STJ, Heitman JL, Ren T. 2010. Cumulative soil water evaporation as a function of depth and time. Vadose Zone J. 10(3): 1016-1022
Diterbitkan
2023-04-09
##submission.howToCite##
GUPITA, Ardhita Nurma; SUARJANA, I Gusti Ketut; GELGEL, Ketut Tono Pasek. Jumlah Fungi pada Retikulum, Omasum dan Abomasum Sapi Bali Berdasarkan Letak Geografis. Buletin Veteriner Udayana, [S.l.], p. 1130-1137, apr. 2023. ISSN 2477-2712. Tersedia pada: <http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet/article/view/99771>. Tanggal Akses: 19 may 2026 doi: https://doi.org/10.24843/bulvet.2023.v15.i06.p12.
Bagian
Articles