Perbandingan Kualitas Fisik Daging Sapi Bali Produksi Rumah Potong Hewan di Kabupaten Badung dan Buleleng
Abstrak
Kualitas fisik daging merupakan hal yang sangat penting yang harusdi perhatikan sebagai hasil produksi suatu Rumah Potong Hewan, karena kualitas fisik yang baik menghasilkan mutu daging yang berkualitas dan layak untuk dikonsumsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas fisik daging sapi bali produksi RPH Badung, dan Buleleng. Penelitian ini mengenai kualitas daging hasil produksinya dengan mengambil sampel dari dua RPH yaitu Badung dan Buleleng. Sampel daging diambil pada bagian pahaRegio femoralis masing-masing sampel diambil sebanyak ± 100 gram. Sampel daging sapi diuji kualitas fisiknya terhadap warna, bau, tekstur dan konsistensi menggunakan 10 orang panelis yang telah memenuhi syarat. Data yang diperoleh dianalisis dengan wilcoxon signed test untuk melihat apakah terdapat perbedaan dari kedua sampel daging yang telah diambil dari RPH Badung, dan Buleleng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna, dan tekstur daging sapi RPH Mambal, Badung dan Panji Anom, Buleleng berbeda nyata (P<0,05). Sedangkan konsistensinya berbeda sangat nyata (P<0,01). Akan tetapi bau daging sapi dari RPH Mambal, Badung dan Panji Anom, Buleleng tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05). Dapat disimpulkan bahwa kualitas fisik daging sapi produksi RPH Mambal, Badung dengan produksi Panji Anom, Buleleng berbeda, kecuali bau dagingnya sama.
##plugins.generic.usageStats.downloads##
Referensi
Ferguson DMFD, Shaw, Stark JL. 2007. Effect of reduced lair age duration on beef quality. Aus J Exp. Agric. 47:770-773.
Forrest C, Aberle ED, Hendrick HB, Judge MD, Markel RA. 1975. Principles of meat science. W. H. Freeman and Company, San Francisco.
Handiwirawan E, Subandriyo. 2004. Potensi dan keragaman sumber daya genetik sapi bali. Bogor. Bul. Ilmu Pet. Indon. 14(3): 107-115.
Hidayat MA, Kuswati K, Susilawati T. 2016. Pengaruh lama istirahat terhadap karakteristik karkas dan kualitas fisik daging sapi Brahman Cross Steer. J. Ilmu-Ilmu Peternakan, 25(2): 7179.
Jeong JY, Hur SJ, Yang HS, Moon SH, Hwang YH, Park GB, Joo ST. 2009. Discoloration characteristics of 3 major muscles from cattle during cold storage. J. Food Sci. 74(1): C1-C5.
Kuntoro B, Maheswari RRA, Nurain H. 2013. Mutu fisik dan mikrobiologi daging sapi asal rumah potong hewan (RPH) Kota Pekan baru. J. Pet. 10(1): 1-8.
Merthayasa JD, Suada, IK, Agustina KK. 2015. Daya ikat air, pH, warna, bau dan tekstur daging sapi Bali dan daging Wagyu. Indon. Med. Vet. 4(1):16-24.
Rahayu S. 2009. Sifat fisik daging sapi, kerbau dan domba pada lama postmortem yang berbeda (physical characteristics of beef, buffalo and lamb meat on different postmortem periods). Bul. Pet. 33(3): 183-189.
Soeparno. 2005. Ilmu dan daging teknologi. Cetakan Kelima. Gadjah Mada.University Press. Yogyakarta.
Sutan SM. 1988. Suatu perbandingan performans reproduksi dan produksi antara sapi Brahman, Peranakan Ongole, dan Bali di daerah Transmigrasi Batu Marta Sumatera Selatan.Disertasi. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suardana IW, Swacita IBN. 2009. Higene makanan. Kajian Teori dan Prinsip Dasar. Udayana University Press. ISBN 978-979-8286-76-6.
Susanto E. 2014. Standar penanganan pasca panen daging segar. J. Ternak. 5(1): 15-20.
Usmiati S. 2010. Pengawetan daging segar dan olahan. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Bogor.
Zulfahmi M, Pranomo YB, Hintono A. 2013. Pengaruh marinasi ekstrak kulit nenas (Ananas comocus L.mer) pada daging itik tegal betina afkirterhadap kualitas kempukan dan sifat organoleptik. J. Pangan Gizi. 4: 19-26


