Penanganan Limfosarkoma Inguinalis pada Anjing Minipom Jantan

  • Ni Putu Gita Kristyari Praktisi di Batubulan, Sukawati, Gianyar, Bali, Indonesia, 80582;
  • I Gusti Agung Gde Putra Pemayun Laboratorium Ilmu Bedah Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia 80234
  • I Wayan Wirata Laboratorium Ilmu Bedah Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Jl. PB. Sudirman, Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia 80234
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/bulvet.2023.v15.i04.p13

Abstrak

Limfosarkoma adalah tumor ganas yang terjadi pada sistem limfatik, penyebab limfosarkoma belum sepenuhnya diketahui, namun ada beberapa faktor resiko yang dapat memicu terjadinya limfosarkoma seperti usia, perubahan genetik, infeksi, radiasi bahan kimia, dan penyakit imunodefiensi tertentu. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui cara mendiagnosa dan penanganan kasus limfosarkoma inguinalis pada anjing. Seekor anjing ras minipom jantan berumur 2 tahun dengan bobot 5,6 kg diperiksa dengan keluhan adanya benjolan didaerah inguinalis bagian dextra penis sejak 3 minggu. Berdasarkan anamnesa, hasil pemeriksaan fisik, tanda klinis yang diamati dan pemeriksaan penunjang histopatologi maka anjing tersebut didiagnosa mengalami limfosarkoma. Hewan kemudian ditangani dengan pembedahan untuk mengangkat tumor. Premedikasi diberikan atrofin sulfat 0.03 mg/kg BB secara subkutan, dan dilanjutkan dengan pemberian anastesi kombinasi xylazine 2 mg/kg BB dan ketamine 12 mg/kg BB secara intravena. Operasi pengangkatan tumor dilakukan dengan cara eksisi pada massa tumor dengan memisahkan jaringan sekitarnya. Pascaoperasi anjing diberikan antibiotik injeksi cefotaxime 20 mg/kg BB secara intravena selama 3 hari, dilanjutkan dengan pemberian cefixime secara per oral 5 mg/kg BB selama 5 hari. Pemberian antiradang tolfedine dengan dosis 4 mg/kg BB secara intramuskuler selama 3 hari. Pada luka operasi hari pertama sampai hari ketujuh diberikan serbuk enbatik dan hari selanjutnya diberikan salep gentamicin sulfat. Setelah operasi hewan diobservasi untuk mengetahui kesembuhan luka pascaoperasi, pada hari ke 12 luka sudah mengering dan menyatu, serta tiga jahitan telah lepas sendirinya. Penanganan kasus limfosarkoma dilakukan dengan tindakan pengangkatan massa tumor. Kesembuhan luka operasi teramati pada hari ke-12. Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dipertimbangkan untuk melakukan kemoterapi dan atau radioterapi untuk menghancurkan sel – sel yang telah bermetastase pada jaringan.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Amanda SA. 2019. Kasus limfoma pada anjing golden retriever. J. ARSHI Vet. Lett. 3 (2): 21-22.
Berata IK, Winaya IBO, Mirah AAA, Adnyana IBW. 2011. Patologi veteriner umum. Swasta Nulus. Denpasar.
David, Steven. 2007. Small animal clinical oncology. Saunders Elsivier. Westline Industrial Drive. St Louis. Messuery.
Fenta DA, Nuru MM, Yemane T, Asres Y, Wube TB. 2020. Anemia and related factors among highly active antiretroviral therapy experienced children in Hawassa comprehensive specialized hospital, Southern Ethiopia: Emphasis on patient management. Drug. Healthcare and Patient Safety. 12(1): 49-56.
Francken AB, Shaw HM, Thompson JF, Soong SJ, Accortt NA, Azzola MF. 2003. The prognostic importance of tumor mitotic rate confirmed in 1317 patients with primary cutaneous melanoma and long follow-up. Ann. Surg. Oncol. 11(4): 426-433.
Gavazza A, Presciuttini S, Barale R, Lubas G, Gugliucci B. 2001. Association between canine malignant lymphoma, living in industrial areas, and use of chemicals by dog owners. J. Vet. Intern. Med. 15(1): 190-195.
Hammad MA, AL-Akhali MK, Mohammed AT. 2013. Evaluation of surgical antibiotic prophylaxis in aseer area hospitals in kingdom of saudi arabia. JPCS. 6(1): 1-7.
Jeusette I, Detilleux J, Cuvelier C, Istasse L, Diez M. 2004. Ad libitum feeding following ovariectomy in female beagle dogs: effect on maintenance energy requirement and on blood metabolites. J. Anim. Physiol. Anim. Nutr. 88(4): 117-121.
Kemenkes RI. 2015. Infodatin pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Laksmi IGAI, Gorda IW, Jayawardhita AAG. 2019. Laporan kasus: penanganan venereal sarcoma pada anjing lokal betina dengan pembedahan dan kemoterapi. Indon. Med. Vet. 8(4): 414-423.
Lukito JI. 2019. Antibiotik pro¬laksis pada tindakan bedah. J. CDK. 46(12): 777-783.
Martins MIM, Souza FFD, Gubelo C. 2005. Canine tumor. Etiology, Pathology, Diagnosis dan Treatment. Int. Vet. Inform. Serv. Ithaca New York.
Mayer K, Lacroix JV, Hoskins HP. 1959. Canine surgery 4th ed., American Veterinary Publications. Inc.
Mengko SK, Surarso B. 2009. Patogenesis limfoma non hodgkin ekstra nodal kepala dan leher. J. THT-KL. 2(1):32-47.
Marconato L, Gelain ME, Comazzi S. 2013. The dog as a possible animal model for human non‐Hodgkin lymphoma: a review. Hematol. Oncol. 31(1):1-9.
Mukaratirwa S, Chipunza J, Chitanga S. 2005. Canine cutaneous neoplasms: prevalence and influence of age, sex and site on the presence and potential malignancy of cutaneous neoplasms in dogs from Zimbabwe. J. South African Vet. Assoc. 76(1): 59–62.
Nasrudin F, Kardena M, Supartika KE. 2014. Indeks mitosis venereal sarcoma pada anjing lokal di Denpasar. Indon. Med. Vet.3(4): 334-343.
Purnama H, Sriwidodo, Ratnawulan S. 2015. Proses penyembuhan dan perawatan luka. Farmaka. 15(2): 251-258.
Priosoeryanto BP. 2014. Penyakit tumor pada hewan: biologi dan upaya penanganannya. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Saputra CFL. 2014. Implementasi konsep wild into coziness pada perancangan interior dog daycare center di Surabaya. J. Intra. 4(2): 423-434.
Sudisma IGN, Putra Pemayun IGAG, Jaya Wardhita AAG, Gorda IW. 2006. Ilmu bedah veteriner dan teknik operasi. Pelawa Sari. Denpasar.
Sewoyo PS, Kardena IM. 2022. Canine transmissible venereal tumor: treatment review and updates. Rev. Electronica de Vet. 23(1): 1-7.
Teske E, Besselink CM, Blankenstein MA, Rutteman GR, Mis-dorp W. 1987. The occurrence of estrogen and progestin receptors and anti-estrogen binding sites (AEBS) in canine non-Hodgkin’s lymphomas. Anticancer Res. 7(1): 857-860.
Villamil JA, Henry CJ, Hahn AW, Bryan JN, Tyler JW, Caldwell CW. 2009. Hormonal and sex impact on the epidemiology of canine lymphoma. J Cancer Epidemiol. 2009: 591753.
Diterbitkan
2023-02-05
##submission.howToCite##
KRISTYARI, Ni Putu Gita; PEMAYUN, I Gusti Agung Gde Putra; WIRATA, I Wayan. Penanganan Limfosarkoma Inguinalis pada Anjing Minipom Jantan. Buletin Veteriner Udayana, [S.l.], p. 609-619, feb. 2023. ISSN 2477-2712. Tersedia pada: <http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet/article/view/94247>. Tanggal Akses: 20 feb. 2026 doi: https://doi.org/10.24843/bulvet.2023.v15.i04.p13.
Bagian
Articles