Perkembangan Telur Cacing Haemonchus contortus Menjadi Larva Stadium Pertama pada Media Air Secara In Situ

  • I Gusti Komang Oka Wirawan Program Studi Kesehatan Hewan, Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jln. Adisucipto, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 85111
  • Ni Sri Yuliani Program Studi Kesehatan Hewan, Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jln. Adisucipto, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 85111
  • Novianti Neliyani Toelle Program Studi Kesehatan Hewan, Jurusan Peternakan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jln. Adisucipto, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 85111
  • . Suryawati Program Studi Teknologi Industri Hortikultura, Jurusan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Jln. Adisucipto, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, 85111
##plugins.pubIds.doi.readerDisplayName## https://doi.org/10.24843/bulvet.2022.v14.i06.p20

Abstrak

Haemonchus contortus merupakan cacing yang sangat patogenik terutama pada domba dan kambing. Penelitian ini bertujuan: untuk mengetahui persentase perkembangan telur cacing H. contortus menjadi larva stadium pertama pada media air secara in situ. Perlakuan penelitian ini diulang sebanyak 5 kali dalam satu kelompok dengan durasi 10 hari dan setiap kelompok menggunakan 8 ekor cacing betina H. contortus. Sampel cacing yang sudah dipreparasi kemudian digerus dan ditambahkan Aqua Pro Injection (pH 7.0) sebanyak 5 mL., disaring menggunakan saringan teh. Prosedur penghitungan telur cacing menggunakan metode McMaster. Prosedur penelitian adalah sebagai berikut: suspensi diambil 1,5 mL kemudian dimasukkan kedalam tabung dan diberikan perlakuan sesuai dengan prosedur. Setiap tabung ditutup alumunium foil yang sudah diberikan lubang sebanyak 15 sampai 20 buah dan di tempatkan di padang penggembalaan selama 48 jam, serta suhu dicatat setiap empat jam mulai pukul 05.00 – 24.00 WITA. Variabel penelitian antara lain: persentase telur cacing yang menetas dan tidak menetas dalam kelompok rendaman. Persentase daya tetas telur cacing dihitung menggunakan rumus: jumlah telur cacing sebelum perlakuan dikurangi jumlah setelah perlakuan dibagi dengan jumlah telur cacing sebelum perlakuan dikalikan seratus. Hasil penghitungan ditabulasikan dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: persentase total rataan perkembangan telur cacing H. contortus menjadi larva stadium pertama sebesar 26,5%. Dapat disimpulkan bahwa: persentase perkembangan telur cacing H. contortus secara in situ sebesar 26,5%. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan telur cacing ini adalah suhu, pH, kelembaban, media biakan, dan abnormalitas telur. Disarankan, untuk memperpanjang waktu perkembangbiakan di dalam media dengan harapan hasil persentasenya lebih optimal.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

Ahmad RZ, Tiffarent R. 2020. Aspek patologi haemonchosis pada kambing dan domba. Wartazoa. 30(2): 91-102.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Kupang (2022). Prakiraan cuaca Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Bekuma F, Dufera B. 2019. Prevalence of heamonchosis in small ruminants and its associated risk factors in and Around Ejere Town, West Shoa, Oromia, Ethiopia. Am. J. Biomed. Sci. Res. 3(5): 409-414.
Coles GC, Jackson F, Pomroy WE, Prichard RK, Samson-Himmels, Gvon T, Silvestere A, Taylor MA, Vercruysse J. 2006. The detection of anthelmintic resistance in nematodes of veterinary importance: review. Vet. Parasitol. 136: 167-185.
Emery DL, Hunt PW, Le Jambre LF. 2016. Haemonchus contortus: the then and now, and where to from here (Invited Review). Int. J. Parasitol. 46: 755–769.
Iliev P, Prelezov P, Ivanov A, Kirkova Z, Kalkanov I. 2017. Effect of temperature and desiccation on some exogenous stages of Haemonchus contortus. Bulg. J. Vet. Med. 20(1): 374–377.
Khatun F, Begum M, Akter S, Mondal M. 2013. In vitro study of environmental and nutritional factors on the hatching and development of eggs of Haemonchus contortus. Bangladesh Vet. 30(1): 1-9.
Mahmood OI, Muhsin SN, Hussein M. 2019. Morphological diagnosis for some eggs of gastrointestinal nematodes from sheep. Tikrit. J. A. Sci. 19(3): 6-9.
Morgan ER, Dijk JV. 2012. Climate and the epidemiology of gastrointestinal nematode infections of sheep in Europe. Vet. Parasitol. 189(1): 8-14.
Rajib SMFR, Dey AR, Begum N, Momin MA, Talukder MH. 2014. Prevalence and in vitro culture of Trichostrongylus spp. in goat at Trishal, Mymensingh, Bangladesh. J. Adv. Parasitol. 1(4): 44-48.
Sutherland I, Scott I. 2010. Gastrointestinal nematodes of sheep and cattle. First Edition. Wiley-Blackwell.
Taylor MA, Coop RL, Wall RL. 2007. Veterinary parasitology. Third Edition. Blackwell Publishing Ltd, 9600 Garsington Road, Oxford OX4 2DQ, UK.
Yuswandi, Rika YS. 2015. Studi biologi larva dan cacing dewasa hemonchus contortus pada kambing a biological study of larvae and adult hemonchus contortus in goat. J. Sain. Vet. 33(1): 42-52.
Zaman MA, Iqbal Z, Khan MN, Muhammad G. 2012. Anthelmintic activity of a herbal formulation against gastrointestinal nematodes of sheep. Research Article. Pak. Vet. J. 32(1): 117-121.
Diterbitkan
2022-11-18
##submission.howToCite##
WIRAWAN, I Gusti Komang Oka et al. Perkembangan Telur Cacing Haemonchus contortus Menjadi Larva Stadium Pertama pada Media Air Secara In Situ. Buletin Veteriner Udayana, [S.l.], p. 759-765, nov. 2022. ISSN 2477-2712. Tersedia pada: <http://ojs.unud.ac.id/index.php/buletinvet/article/view/93900>. Tanggal Akses: 20 feb. 2026 doi: https://doi.org/10.24843/bulvet.2022.v14.i06.p20.
Bagian
Articles